Iman dan Ilmu: Dua Sayap Peradaban

Jul 21, 2026 - 10:51
 0
Iman dan Ilmu: Dua Sayap Peradaban
ilustrasi gambar ilmuan muslim. sumber foto google.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

"Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, 'Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,' maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, 'Berdirilah kamu,' maka berdirilah. Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Mujadalah [58]: 11)

Perasaan Gembira Saat Membaca Surat Al-Mujadalah.

Hampir dua minggu terakhir, saya selalu mengulang-ulang Surah Al-Mujadalah dalam setiap shalat. Setiap kali melintasi ayat di atas, dada saya selalu dihinggapi perasaan hangat sekaligus gembira. Saya meyakini seratus persen bahwa janji Allah tak pernah ingkar. Mungkin kapasitas iman saya hari ini masih sangat rentan. Namun, setidaknya Allah masih mengalirkan hidayah dan tenaga bagi saya untuk terus mau belajar. Saya terus berdoa agar nyala semangat belajar ini tak padam. Saya bercita-cita masuk ke dalam golongan orang-orang yang dikaruniai dahaga ilmu demi memantapkan keimanan kepada Allah SWT. Level iman saya tentu masih sangat jauh di bawah para alim ulama. Saya merasa bagai anak kecil yang baru belajar merangkak, sementara mereka telah berlari kencang dan mandiri menafkahi batinnya sendiri.

Tentu menarik menelaah kaitan antara iman dan ilmu pengetahuan—dua prasyarat utama agar Allah mengangkat derajat seorang hamba. Bagaimanakah Islam memandang dua samudra besar ini?

Dua Sayap Burung Peradaban

Iman dan ilmu adalah dua entitas yang berbeda. Iman adalah kepasrahan yang bertumpu pada fondasi kepercayaan, sedangkan ilmu adalah hasil pencarian yang lahir dari keraguan dan rasa ingin tahu. Keduanya bagaikan dua sayap burung: jika salah satunya patah atau absen, mustahil burung tersebut dapat membumbung tinggi ke angkasa. Jika menelusuri jejak sejarah Islam, kita akan mendapati banyak peristiwa yang mustahil ditembus hanya dengan rasionalitas ilmu pengetahuan, namun begitu mudah dipahami melalui pendekatan iman.

sebagai contoh konkretnya adalah kepasrahan Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a, saat membenarkan peristiwa Isra dan Mikraj Nabi Muhammad saw dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina. Sikap beliau sangat bertolak belakang dengan mayoritas kaum musyrikin—bahkan sempat meyakinkan sebagian sahabat yang imannya masih belia.

Sungguh tidak mudah mengimani narasi yang terkesan "tidak logis" di masa-masa awal Islam. Apalagi, rute Makkah–Palestina adalah jalur dagang yang amat dihafali jarak dan durasinya oleh masyarakat Arab kala itu. Lalu tiba-tiba, Rasulullah menceritakan bahwa beliau menempuh jarak ribuan kilometer tersebut hanya dalam semalam atas izin Allah.

Lantas, apa yang membuat Abu Bakar langsung percaya tanpa ragu? Jawabannya adalah iman. Sebuah rasa percaya mutlak kepada Rasulullah  yang melampaui logika materialis. Abu Bakar telah mengikis habis keraguannya hingga tak tersisa walau sebiji zarah pun. Bagi beliau, membenarkan Rasulullah adalah hal intuitif, yang kemudian dibuktikannya lewat pengorbanan harta hingga nyawa. Dengan kekuatan iman itulah Abu Bakar rela menemani Rasulullah hijrah meninggalkan kampung kelahirannya menuju madinah. 

Akar Ketaatan dan Keberanian Para Sahabat

Mengapa iman Abu Bakar bisa menancap begitu kokoh? Semua itu tak lepas dari rekam jejak kejujuran (Al-Amin) dan keadilan Rasulullah yang tak tertandingi. Sejak belia hingga wafat, tak pernah ada satu pun kebohongan yang tercatat dari lisan beliau. Akhlak mulia beliau adalah pemikat hati yang paling ampuh. Rasulullah tidak pernah mengatakan sesuatu yang didorong oleh hawa nafsu, melainkan semua ucapan beliau berlandaskan wahyu Allah yang kemudian menjadi pedoman hidup bagi manusia.

Akhlak mulia, lembut, tegas, dan seluruh sifat positif itulah yang kemudian membuat Sayyidatinā Khadijah r.a.—seorang bangsawan kaya, cantik, dan terpandang—tanpa ragu menerima lamaran paman Rasulullah. Padahal sebelumnya, Khadijah telah menolak banyak lamaran dari pemuka Quraisy. Bagi Khadijah, pemuda seperti Muhammad adalah sosok idaman karena keluhuran budi, kejujuran, dan kesungguhannya dalam mencari kebenaran. Akhlak mulia inilah yang membuka pintu hati orang-orang berakal sehat untuk memeluk Islam dan mengimani wahyu yang dibawanya.

Karakter iman Abu Bakar merupakan pengejawantahan nyata dari firman Allah SWT:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambahlah imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal." (QS. Al-Anfal [8]: 2)

Cinta Abu Bakar kepada Allah dan Rasulullah telah membuatnya larut dalam kemesraan spiritual dan rasa diawasi (muraqabah). Level Abu Bakar bukan lagi sekadar memupuk iman, melainkan membela keyakinan dan membuktikan kebenaran janji-janji Allah.

Daya ledak iman ini juga terlihat terang pada mentalitas pejuang Muslim di medan perang. Pada Perang Badar, 313 tentara Muslim bertempur melawan hampir 1.000 pasukan Quraisy. Begitu pula pada Perang Mu'tah: 3.000 pejuang Muslim harus berhadapan dengan 300.000 pasukan gabungan Kekaisaran Bizantium dan Ghassanid. Rasio kuantitas yang mustahil secara hitung-hitungan militer itu justru menghasilkan kegigihan luar biasa. Keberanian itu tidak lahir dari iming-iming materi duniawi yang kerdil, melainkan dari janji syahid dan surga.

Lihatlah bagaimana tiga panglima Mu'tah—Zaid ibn Haritsah, Ja'far ibn Abi Thalib, dan Abdullah ibn Rawahah—gugur berturut-turut. Saat tangan kanan Zaid tertebas, ia menyambar bendera Islam dengan tangan kirinya dan terus menerjang kerumunan musuh tanpa gentar sedikit pun. Keberanian transendental semacam ini hanya bisa lahir dari iman yang menghujam dalam sanubari.

Napas Ilmu dalam Tubuh Islam

Di sisi lain, apa yang membuat ajaran Islam—yang lahir di tengah pekatnya padang pasir Arabian—mampu merengkuh hampir seluruh sudut bumi?

Selain karena kebenaran wahyu Al-Qur'an dan Sunnah, faktor lain yang amat krusial adalah penghormatan Islam yang sangat tinggi terhadap ilmu pengetahuan. Hanya dengan ilmulah manusia mampu menalar mana yang hak dan batil, serta menjalankan fungsinya sebagai khalifah fil 'ardh (pemakmur bumi). Ilmu dalam Islam tidak bersifat parsial atau sekadar hukum fikih semata, melainkan mencakup sains, ilmu sosial, hingga humaniora. Islam adalah agama yang paling sistematis mendudukkan peradaban ilmu.

Lihatlah jajaran ilmuwan besar Muslim: Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Farabi, Ibnu Khaldun, Al-Khawarizmi, hingga Thabit ibn Qurra. Salah satu nama yang kerap terlupakan adalah Ibnu Al-Awwam, peletak dasar agronomi modern asal Andalusia abad ke-12. Melalui karyanya, Kitab al-Filahah (Book on Agriculture), beliau meletakkan prinsip-prinsip agrikultur yang terinspirasi langsung dari isyarat Al-Qur'an.

Sebagai contoh, dalam Al-Qur'an Allah membuat perumpamaan tentang infak yang ikhlas:

وَمَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ وَتَثْبِيْتًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ ۢ بِرَبْوَةٍ اَصَابَهَا وَابِلٌ فَاٰتَتْ اُكُلَهَا ضِعْفَيْنِۚ فَاِنْ لَّمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

"Dan perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya karena mencari ridha Allah dan untuk memperteguh jiwa mereka seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, lalu kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis pun memadai. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."(QS. Al-Baqarah [2]: 265)

Isyarat Al-Qur'an mengenai keunggulan tanah di dataran tinggi (rabwah) yang lebih subur dan lembap ini diulas secara rasional oleh Ibnu Al-Awwam dalam kitabnya. Ini membedakan kualitas tanah dataran tinggi dan dataran rendah. Di era modern, lewat rekayasa sains dan teknologi, benih unggul diciptakan mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan sehingga petani mampu memaksimalkan potensi berbagai jenis lahan. Ilmu pengetahuan telah mewujudkan potensi ayat-ayat Allah di alam semesta.

Menuju Peradaban Masa Depan

Lalu bagaimana cara agar mewujudkan masyarakat yang komplit, yaitu masyarakat yang beriman dan sekaligus mayarakat yang cerdas dan berkebudayaan?

Masyarakat muslim memerlukan para pemikir muslim  dan generasi muslim yang berani mengembangkan sayap-sayap pengetahuan mereka menjamah apa saja yang berkaitan dengan kemaslahatan manusia dan kemudian memilih untuk meninggalkan kejumudan berpikir, konplik internal dan semua hal yang selama ini menjadi faktor penghambat terwujudnya ukhuwah isalamiyah, keterbukaan dalam berpikir, dan keberanian untuk mengeksplor diri. Dan tidak kalah pentingnya adalah terwujudnya saling menerima antar sesama tokoh berbeda aliran, madzhab dan saling merangkul antara ormas islam yang satu dengan lainnya dibawah ajaran nabi Muhammad saw dan melalui tutur lisan para ulama' salafus shalih. 

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0
Ahmad Nawawi Pengurus Wilayah/Cabang Nusa Tenggara Barat