Menyambut Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh Ahlussunnah Wal-Jamaah (JATMA ASWAJA)

Indonesia—sebagai negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia—memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk menjaga kesinambungan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Mei 10, 2025 - 00:23
Mei 10, 2025 - 01:19
 0
Menyambut Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh Ahlussunnah Wal-Jamaah (JATMA ASWAJA)

IKHBAR - Menyambut Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh Ahlussunnah Wal-Jamaah
(JATMA ASWAJA): "Thoriqoh: Spiritualitas yang melahirkan Kedermawanan (Generosity)"

Dunia sedang dalam tantangan berbagai hal dalam konteks geopolitik, ekonomi dan peradaban, juga ancaman konfik antar negara dan perpecahan bangsa. Indonesia—sebagai negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia—memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk menjaga kesinambungan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. 

Islam yang tidak sekadar menampilkan wajah legalistik-formal, tetapi juga yang menyentuh sisi terdalam manusia: jiwa, kasih sayang, akhlak, dan keteduhan batin. Dalam konteks inilah, thariqah menempati posisi sentral—ia adalah jalan pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs) dan pendakian ruhani yang bersumber dari ajaran Rasulullah SAW dan diwariskan secara bersanad oleh para mursyid yang terpercaya.

Berdiri pada 17 Ramadhan 1446 H, JATMA ASWAJA hadir sebagai rumah besar bagi para pengamal thariqah mu’tabarah berbasis Ahlussunnah wal Jama’ah. Organisasi ini dipimpin oleh guru & tokoh bangsa Maulana Habib Luthfi bin Yahya sebagai Ketua Umum & Rois Aam dan DR Ir.  H. A. Helmy Faishal Zaini sebagai Sekretaris Jenderal Jatma Aswaja.

Spirit Thariqah: Jalan yang Membentuk Jiwa

Dalam hadis sahih, Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad, al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dan al-Bayhaqi)

Hadis ini menjadi jiwa dari gerakan thariqah: menyempurnakan akhlak melalui jalan mujahadah (perjuangan batin), riyadah (latihan jiwa), dan muroqobah (kesadaran ilahiyah). Dalam dunia yang hiruk-pikuk oleh polarisasi politik, komodifikasi agama, dan kehilangan makna hidup, thariqah menawarkan alternatif yang radikal dalam kelembutannya: kembali kepada Tuhan dengan cinta, dzikir, dan penghambaan yang total.

JATMA ASWAJA meyakini bahwa spiritualitas bukanlah kemewahan eksklusif para elite ruhani, melainkan kebutuhan pokok masyarakat modern yang terjebak dalam kelelahan eksistensial. Oleh karena itu, misi organisasi ini bukan sekadar menjaga tradisi, tapi juga memasyarakatkan transendentalisme dalam kehidupan sehari-hari.

Dua Pilar Gerakan: Transendensi dan Pemberdayaan

JATMA ASWAJA dibangun di atas dua pilar utama:

1. Membangun Transendentalisme
Menjadikan thariqah sebagai jalan penguatan hubungan antara hamba dan Allah. Dalam dunia yang penuh distraksi, manusia membutuhkan ruang sunyi—dan thariqah menyediakan ruang itu secara sistematis. Dzikir, suluk, dan adab kepada mursyid bukanlah praktik yang asing dari kehidupan sosial, tetapi justru menjadi fondasi kesalehan publik. JATMA ASWAJA mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali pada tradisi dzikir berjamaah, pengajian thariqah, dan penguatan sanad keilmuan serta ruhaniyah.

2. Pemberdayaan Ekonomi Ummatan

Spirit thariqah tidak anti-dunia. Sebaliknya, ia mendorong umat untuk memakmurkan bumi. Allah SWT berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Carilah (kebahagiaan) negeri akhirat dengan apa yang telah Allah karuniakan kepadamu, dan janganlah lupakan bagianmu dari dunia.”
(QS. Al-Qashash: 77)

Maka, JATMA ASWAJA berkomitmen menjalankan dakwah integral: menyucikan jiwa dan memandirikan ekonomi. Melalui jaringan koperasi, pemberdayaan UMKM, hingga gerakan filantropi berbasis pesantren dan zawiyah, JATMA ASWAJA ingin memastikan bahwa para pengamal thariqah tidak hanya kuat secara ruhani, tetapi juga tangguh secara ekonomi dan sosial.

Islam Wasathiyyah: Menjaga Keseimbangan, Merawat Keberagaman

JATMA ASWAJA berdiri di atas nilai-nilai Islam Wasathiyah—konsep Islam pertengahan yang menolak ekstremisme dan keberagamaan yang kaku. Prinsip-prinsip tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (adil) menjadi nilai yang tak terpisahkan dari praktik thariqah sejak dulu. 

Sebagaimana firman Allah SWT:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا
“Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat yang wasath (moderat).”
(QS. Al-Baqarah: 143)


Para mursyid Thariqoh  mengajarkan bahwa beragama jangan sampai kehilangan kontak dengan realitas. Karena esensi  beragama adalah mengajarkan tentang generosity, yakni sikap kedermawanan, yang kuat membantu yang lemah, yang kaya membantu yang miskin. Ini menjadi penting untuk konteks global dan domestik sekarang ini, yang relevan dengan kondisi bangsa. 

Para mursyid thariqah, sejak zaman Wali Songo hingga hari ini, telah menjadi penjaga keindahan Islam melalui pendekatan yang lembut, santun, dan merangkul. JATMA ASWAJA berkomitmen untuk meneruskan warisan itu: menjaga harmoni antarumat, merawat keberagaman dalam bingkai ukhuwah insaniyah, dan meneguhkan kembali akhlakul karimah sebagai ruh peradaban.

Pendirian JATMA ASWAJA bukan sekadar pembentukan struktur organisasi. Ia adalah penanda zaman bahwa spiritualitas Islam masih memiliki tempat di tengah dunia yang serba cepat dan dangkal. Ia adalah suara para pecinta Tuhan, yang berjalan dalam diam tapi mengubah banyak hal.

Melalui JATMA ASWAJA, kita berharap akan lahir generasi baru pengamal thariqah—yang tidak hanya fasih dalam wirid dan dzikir, tapi juga bijak dalam memimpin umat, adil dalam bermuamalah, dan kokoh dalam menjaga bangsa dari polarisasi dan perpecahan.

Pekalongan, 18 April 2025

Jatma Aswaja

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 1
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 3
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0
Jatma Aswaja Jamiyyah Ahlith Thariqah Al-Mu'tabaroh Ahlussunnah Wal Jamaah