Menyelami Hakikat Orang Beriman Dalam Surah Al-Anfal.
اِنَّمَا الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الَّذِيۡنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتۡ قُلُوۡبُهُمۡ وَاِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ اٰيٰتُهٗ زَادَتۡهُمۡ اِيۡمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُوۡنَ{ ٢} الَّذِيۡنَ يُقِيۡمُوۡنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقۡنٰهُمۡ يُنۡفِقُوۡنَؕ {٣}
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, hati mereka bergetar dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambahlah iman mereka; dan hanya kepada Allah mereka bertawakal. Mereka itulah orang-orang yang mendirikan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang kami berikan” (QS. Al-Anfal [8]: 2–3)
Rabu 22 Juli 2026 pada jam 8:00 Wita, saya dalam perjalanan mengantar istri ke Universitas Mataram (Unram). Ditengah perjalanan, pikiran saya tiba-tiba terhubung pada Surah Al-Anfal -salah satu nama surah dalam Al-Qur'an-. Ayat-ayat pembuka surah itu, khususnya ayat 1–5, telah berkali-kali saya baca ketika menjadi imam shalat. Selama bertahun-tahun saya membacanya, bahkan hingga tidak terhitung jumlahnya. Namun, baru pada pagi itu saya memperoleh pertanyaan “pernahkah saya benar-benar merasakan hati bergetar ketika mengingat nama Allah?”
Bagi saya, pertanyaan itu begitu dalam dan tidak mudah dijawab hanya berlandaskan teori. Sebab masalah tersebut berkaitan dengan keadaan rahasia hamba yang hanya bisa dirasakan oleh setiap individu. Terpantik oleh pertanyaan di atas, saya pun menelusuri kembali perjalanan hidup, tepatnya sejak memasuki masa akil balig. Sejujurnya, saya merasa belum pernah mengalami getaran hati sebagaimana yang digambarkan dalam ayat tersebut. Adapun mengenai bertambahnya iman ketika membaca atau mendengarkan ayat-ayat Al-Qur'an, saya yakin pernah mengalaminya, bahkan cukup sering. Akan tetapi, pengalaman itu biasanya hanya berlangsung sesaat. Setelah itu, iman kembali diuji oleh berbagai dinamika kehidupan hingga perlahan mengalami penurunan. Lalu kemudian muncul pertanyaan berikutnya: bagaimana caranya agar dapat menghadirkan getaran hati setiap kali nama Allah disebutkan?
Dalam hidup, kita sering mengalami hati yang bergetar ketika mendengar musik tertentu, saat akan bertemu dengan orang yang kita hormati atau kagumi, bahkan ketika berhadapan dengan orang yang pernah kita zalimi. Hati juga bisa bergetar ketika mengunjungi tempat yang memiliki nilai sakral atau menyimpan kenangan mendalam dalam hidup. Saya kira setiap orang pernah mengalami hal semacam ini, meskipun dengan cara dan pengalaman yang berbeda-beda. Lalu mengapa selama ini hati saya belum mampu bergetar ketika mendengar, menyebut, atau mengingat nama Allah?
Jawabannya adalah ketidak mampuan saya menangkap "frekuensi" sinyal Ilahi sebagaimana mudahnya saya menangkap getaran dari musik yang saya dengarkan. Saya menduga hal itu disebabkan oleh dua hal. Pertama, saya belum benar-benar menyadari hakikat mendirikan shalat. Kedua, hati saya masih dipenuhi oleh begitu banyak kotoran duniawi yang seharusnya dibersihkan. Baiklah, saya akan mencoba masuk membahas penyebab pertama, yaitu Shalat.
Sebagai ibadah yang paling utama, shalat merupakan satu-satunya ibadah yang tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan apa pun. Meninggalkan shalat berarti meruntuhkan tiang agama. Sebaliknya, mendirikan shalat berarti menegakkan dan mengokohkan tiang-tiang agama.
Jika dianalisis melalui peristiwa yang dekat dengan kehidupan manusia, shalat dapat dianalogikan seperti fingerprint yang dilakukan oleh pegawai, karyawan, atau pekerja di sebuah lembaga. Fingerprint menjadi bukti bahwa mereka hadir, masih menjadi bagian dari lembaga tersebut, dan terus menjalankan tanggung jawab yang diamanahkan kepada mereka. Pada akhirnya, kehadiran itu menjadi dasar bagi mereka untuk memperoleh hak-hak yang semestinya diterima setiap bulan.
Namun, fingerprint bukan sekadar meletakkan jari pada mesin absensi. Di balik tindakan sederhana itu tersimpan harapan akan kepastian memperoleh gaji sebagai buah dari kehadiran dan tanggung jawab mereka. Memang, hal itu tidak pernah diucapkan secara langsung. Akan tetapi, gejala tersebut tampak jelas ketika seseorang merasa keberatan, bahkan marah, saat gajinya dipotong karena terbukti tidak melakukan absensi. Dari fenomena psikologis seperti itulah dapat disimpulkan bahwa fingerprint sesungguhnya memiliki makna yang melampaui sekadar pencatatan kehadiran.
Jika shalat dipahami melalui sudut pandang seperti ini, sesungguhnya Allah Swt. menyediakan ruang bagi manusia untuk "melaporkan" keberadaan mereka kepada-Nya setiap hari. Shalat menjadi bentuk kehadiran seorang hamba di hadapan Tuhannya sekaligus tanda bahwa ia masih menjalankan amanah sebagai khalifah di muka bumi. Melalui shalat, seorang hamba berhak berharap akan rahmat, perhatian, dan ganjaran dari Allah, sementara seluruh amalnya dicatat oleh para malaikat yang telah diutus untuk mengawasi setiap perbuatannya. Sebagaimana seorang pegawai yang disiplin bekerja dan tidak pernah lalai melakukan absensi akan memperoleh kenaikan pangkat dan penghargaan, demikian pula seorang hamba yang istiqamah dalam shalat dan amal salehnya akan memperoleh derajat yang lebih tinggi di sisi Allah.
Poin penting dari analogi ini bukanlah absensinya, melainkan kenaikan derajat. Allah-lah yang menggiring hamba-Nya untuk merasakan kedekatan dengan-Nya. Perasaan itu tidak dapat diciptakan oleh manusia semata-mata atas kehendaknya sendiri. Ia merupakan karunia yang diberikan kepada hamba yang terus menempuh perjalanan panjang melalui amal-amal saleh, sembari menjaga kehadirannya di hadapan Allah melalui shalat lima waktu.
Karena itulah, dalam banyak ayat Al-Qur'an, perintah mendirikan shalat hampir selalu disandingkan dengan perintah berinfak atau menunaikan zakat. Keduanya menunjukkan bahwa hubungan dengan Allah harus berjalan beriringan dengan hubungan baik kepada sesama manusia. Tidaklah cukup seseorang hanya "mengisi absensi" melalui shalat, tetapi mengabaikan pekerjaan-pekerjaan kebaikan yang menjadi konsekuensi dari keimanannya. Sebaliknya, amal sosial tanpa dibangun di atas hubungan spiritual yang kokoh juga kehilangan fondasi utamanya. Sebagaimana seorang pegawai tidak cukup hanya melakukan absensi tanpa bekerja, atau bekerja keras tetapi tidak pernah tercatat kehadirannya, keduanya sama-sama menunjukkan ketidak sempurnaan dalam menjalankan amanah.
Demikian pula shalat dan amal saleh. Keduanya harus berjalan seiring dan saling menguatkan. Apabila seseorang berharap agar Allah mengangkat derajatnya hingga dianugerahi kepekaan hati—misalnya merasakan getaran ketika mendengar nama Allah disebut—maka ia harus menjaga shalatnya sekaligus memperbanyak amal saleh yang manfaatnya dapat dirasakan oleh orang lain, atau paling tidak oleh keluarganya sendiri. Allah memberikan contoh melalui infak dan zakat. Akan tetapi, tidak semua orang memiliki kemampuan materi untuk melaksanakannya dalam jumlah yang besar. Karena itu, setiap orang dapat mencari bentuk amal saleh lain yang sesuai dengan kemampuan dan keadaan masing-masing, selama diniatkan untuk menjaga amanahnya sebagai khalifah Allah di bumi. Amal saleh selalu berkaitan dengan kebaikan yang mampu kita lakukan dan memberikan manfaat bagi orang lain. Rasulullah saw. bahkan mencontohkan bentuk-bentuk kebaikan yang paling sederhana, seperti menebarkan senyum atau menyingkirkan duri dari jalan agar tidak membahayakan orang lain.
Apabila shalat dan amal saleh terus dijalankan secara istiqamah sesuai dengan tuntunan yang telah ditetapkan Allah, maka perlahan-lahan Allah akan mengangkat kualitas jiwa seorang hamba. Pada saat itulah ketenangan, kedamaian, dan kepekaan hati mulai tumbuh. Hatinya menjadi lebih mudah bergetar ketika mengingat Allah, sementara kehidupannya dipenuhi rasa tentram dalam menjalankan tugas yang tidak pernah berakhir, yaitu mengemban amanah sebagai khalifah di muka bumi.
Jika kesadaran seperti ini telah terinstal, maka shalat akan dipandang sebagai sebuah kebutuhan, bukan sekadar kewajiban. Kebutuhan untuk meraih derajat di sisi Allah, memperoleh perhatian dan kasih sayang-Nya, serta menjaga hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Pada titik itulah manusia mulai mampu memposisikan materi sebagai objek, bukan sebagai subjek yang mengendalikan hidupnya. Tujuan hidup pun perlahan bergeser, dari mengejar sesuatu yang sementara menuju yang kekal, dari orientasi dunia menuju orientasi akhirat.
Perubahan batin seperti ini tentu tidak terjadi secara instan. Tidak bisa seseorang beranggapan bahwa setelah lulus dari pondok pesantren atau selesai menuntut ilmu di Makkah, ia otomatis akan merasakan kedekatan dengan Allah. Tidak. Kedekatan itu bukan hadiah yang diberikan karena gelar atau tempat belajar. Allah mengangkat derajat hamba-hamba-Nya sesuai dengan kesungguhan mereka dalam menempuh perjalanan menuju-Nya, yaitu ketika mereka memandang Allah sebagai Wujud Yang Maha Hakiki dan dirinya sebagai makhluk yang sepenuhnya bergantung kepada-Nya. Perjalanan seperti itu tidak ditentukan oleh luasnya pengetahuan atau banyaknya harta, melainkan oleh keseriusan seorang hamba dalam mencari ridha Allah melalui setiap takdir kehidupan yang Allah tentukan untuk dirinya.
Namun, keseriusan mencari Allah bukanlah karena Allah pernah tidak ada, lalu kemudian harus ditemukan. Logikanya tentu bukan demikian. Allah senantiasa Ada dan tidak pernah jauh dari hamba-Nya. Justru manusialah yang sering menjauh dari Allah. Oleh sebab itu, yang sesungguhnya perlu dicari adalah kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap denyut kehidupan.
Dalam perspektif tauhid dan tasawuf, pencarian itu bukanlah mencari Zat Allah, melainkan berusaha membangkitkan kembali ingatan fitrah tentang perjanjian primordial antara seorang hamba dengan Tuhannya, sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah:
وَ اِذۡ اَخَذَ رَبُّكَ مِنۡۢ بَنِىۡۤ اٰدَمَ مِنۡ ظُهُوۡرِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَ اَشۡهَدَهُمۡ عَلٰٓى اَنۡفُسِهِمۡ ۚ اَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰى شَهِدۡنَا اَنۡ تَقُوۡلُوۡا يَوۡمَ الۡقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنۡ هٰذَا غٰفِلِيۡنَ ۙ }١٧٢{
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), "Bukanlah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini," (QS. Al-A'raf [7]: 172).
Ingatan tentang perjanjian primordial itu saya anggap selalu ada dalam memori bawah sadar seorang hamba yang menuntun mereka selalu ingin berbuat baik jika sudah terjerumus dalam kejahatan. Dan harus diakui bahwa perjanjian primordial kita dengan Allah itu sering tertutup oleh kelalaian, hawa nafsu, dan kecintaan yang berlebihan kepada dunia. Ketika seorang hamba bersungguh-sungguh membersihkan hatinya dan mendekat kepada Allah, maka dengan rahmat-Nya Allah akan membuka kembali kesadaran fitrah tersebut sedikit demi sedikit dan kemudian seorang hamba akan memiliki kesadaran untuk menunaikan perjanjian primordial itu selama mereka masih hidup di dunia.
Ayat tersebut kemudian menegaskan kondisi orang-orang yang telah menerima ruh agama ke dalam batin mereka dengan sebutan mukminūna ḥaqqan, yaitu orang-orang yang benar-benar beriman. Lalu, seperti apakah gambaran orang yang benar-benar beriman itu? Sebagaimana telah dijelaskan, hati mereka bergetar ketika mendengar nama Allah karena begitu dalam rasa takjub dan pengagungan mereka kepada-Nya. Hal itu terjadi karena ruh iman telah dihembuskan ke dalam batin mereka, karena Allah telah menganugerahkan kedudukan yang mulia kepada mereka, dan karena Allah telah memperjalankan mereka menuju kehidupan yang hakiki. Kehidupan yang hakiki adalah kehidupan yang tidak mengenal jeda dalam setiap langkahnya, kehidupan yang tidak menyisakan penyesalan dalam setiap ruang dan dimensinya, serta kehidupan yang tidak lagi diselingi oleh bentuk kehidupan dan ragam perasaan selain ketenangan dan kedamaian. Semua itu mereka rasakan karena senantiasa memperoleh sapaan kasih dan kelembutan dari Sang Kekasih, yaitu Allah Swt.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0

