Mengenal Bacaan Bergizi: Empat Sehat, Lima Hikam Athoiyyah
Salah satu kitab pamungkas yang selalu bisa memberikan pencerahan setiap kali dibaca adalah kitab Syarah al-Hikam. Matan al-Hikam itu sendiri ditulis oleh seorang ulama besar yang bernama lengkap Tajuddin Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Athaillah as-Sakandari. Beliau dijuluki sebagai Arif Billah dan merupakan salah satu wali besar yang pernah ada di Iskandariyah, Mesir.
Dalam persepsi sebagian masyarakat, kitab al-Hikam masih lekat dengan asumsi sakralitas, sehingga dianggap tidak sembarang orang bisa dan mampu membacanya. Asumsi tersebut bukan tanpa alasan. Kedalaman makolah (ucapan) Syaikh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam menjelaskan pengalaman rohani memang tidak mudah dimengerti jika tidak berangkat dari tradisi keilmuan bahasa yang lengkap dan pengalaman batin yang memadai.
Hal ini juga diakui oleh Imam ar-Randi ketika men-syarah kitab tersebut. Beliau dengan sangat indah mengatakan bahwa sesungguhnya ucapan para wali dan ulama selalu mengandung rahasia dan permata kebijaksanaan yang tidak mungkin bisa disingkap secara detail, serta tidak bisa dijelaskan kecuali dengan mendengarkan langsung maksud dan tujuan ucapan itu dituliskan dari mereka.
Dalam hal ini, saya tidak sedang dalam rangka menuliskan maksud dari salah satu petikan hikmah Imam Ibnu Athaillah tersebut. Saya lebih ingin mengungkapkan kekaguman yang tidak pernah habis terhadap muatan makolah beliau yang selalu terasa "hidup" ketika dibaca berulang kali. Ungkapan yang selalu hidup dan membekas seperti itu biasanya lahir dari tutur kata seseorang yang telah mencapai puncak pengetahuan, sehingga Allah menitipkan cahaya pada ucapan, tulisan, dan seluruh jawarih (anggota tubuh) mereka.
Saya mulai dari cerita perkenalan dengan kitab al-Hikam. Saya mengaji kitab ini kepada dua guru yang sangat saya akui kredibilitas keilmuannya. Pertama, kepada Ustaz Mislahuddin(pendiri pondok pesantren at-Taufik, Sesele, Lombok Barat) dan Tuan Guru Munajib Khalid (Pengasuh pondok pesantren al-Halimi, desa sesela, Lombok Barat).Dari kedua guru itulah, saya mendengarkan langsung petikan makolah Ibnu Athaillah dan diurai dengan bahasa yang sederhana namun penuh makna.
Walhasil, Ibnu Athaillah selalu menawarkan konsep yang logis dan terukur dalam menjelaskan sesuatu yang berkaitan dengan pengalaman suluk beliau menempuh jalan menuju kesejatian. Kitab al-Hikam secara umum berisi tentang tauhid, pengalaman suluk Ibnu Athaillah, dan munajat-munajat beliau. Kesemuanya itu sebetulnya bertujuan untuk wushul (sampai kepada Allah) melalui pengetahuan dan kesadaran penuh akan segala sesuatu yang selalu diliputi oleh kehendak Allah SWT. Kali ini, saya akan membahas tentang salah satu makolah beliau yang masih—dan selalu—relevan dalam kehidupan:
معصيّة أورثة ذلّا وافتقارا خير من طاعة أورثت عزا واستكبارا
"Kemaksiatan yang melahirkan rasa hina dan penyesalan lebih baik dibanding dengan ketaatan yang melahirkan kemuliaan dan kesombongan."
Jika memposisikan diri sebagai pembaca sekaligus komentator atas sebuah karya sastra, saya akan menilai bahwa penulis ingin "mengacak-acak" cara berpikir kebanyakan manusia. Sepotong makolah di atas mencoba menggedor dan membongkar bangunan spiritual seorang salik (penempuh jalan spiritual) agar dia selalu memandang dirinya tidak sedang berbuat apa-apa di hadapan Allah.
Coba bayangkan, kedalaman makolah itu terletak pada daya tangkap penulis untuk merumuskan jenis "maksiat" yang masih terhitung baik, dan kemudian mengungkapkan bahwa ada jenis "taat" yang tidak baik. Ini adalah cara berpikir yang sangat keren. Penulis berusaha membalik sudut pandang pembaca dalam melihat nilai ketaatan dan kemaksiatan, yang keduanya sama-sama bisa berubah menjadi kebaikan atau kejahatan melalui cara-cara tertentu.
Menariknya, Imam ar-Randi dalam men-syarah makolah tersebut menggunakan diksi yang sangat indah. Beliau mengungkapkan bahwa perasaan hina dan bersalah adalah sifat kehambaan (ubudiyah), sementara perasaan mulia dan sombong merupakan sifat ketuhanan (rububiyah). Jadi, tidak ada kebaikan pada ketaatan yang kemudian berbuah kesombongan, karena itu adalah bentuk "mencaplok" dan mengambil sifat Tuhan. Sebaliknya, tidak ada dosa pada maksiat yang diakhiri dengan rasa hina dan penyesalan, karena rasa itulah yang akan menghapus dosa kesalahannya.
Tentu saja dalam hal ini, penyesalan dan rasa hina tersebut tidak bisa dibuat-buat oleh para salik. Orang-orang yang berjalan menuju Tuhan tidak dibenarkan sengaja berbuat maksiat hanya untuk kemudian menyesali perbuatan mereka. Sesungguhnya, penulis ingin menyuguhkan sudut pandang kedalaman batin, bukan tentang sesuatu yang tampak di permukaan yang cenderung bisa dipoles dan dimanfaatkan.
Dengan kata lain, penulis ingin mengajak kita untuk menilai manusia dari kedudukan mereka di hadapan Allah. Apakah itu sulit? Tentu tidak, dengan syarat kita juga telah berusaha untuk meninggalkan seluruh pernak-pernik kemuliaan dan kesombongan yang berpotensi singgah di hati. Maksud meninggalkan di sini bukan dalam makna yang sempit, melainkan meninggalkannya agar tidak mempunyai posisi dan kedudukan di dalam kalbu.
Hal itu dikuatkan lagi oleh tradisi yang sering dilakukan oleh guru Ibnu Athaillah as-Sakandari, yaitu Syaikh Abu Abbas al-Mursi. Beliau terkadang mengabaikan kedatangan orang yang taat namun sombong, dan justru selalu menghormati kedatangan pendosa yang senantiasa berharap pada ampunan serta rahmat Allah.
Lebih jauh lagi, saya melihat bahwa usaha menghidupkan batin manusia menjadikan Imam Ibnu Athaillah selalu memposisikan adab seorang hamba kepada Allah sebagai tumpuan dari seluruh amal saleh mereka. Artinya, tanpa posisi yang jelas antara kedudukan hamba dan Allah di dalam batin seseorang, maka akan selalu ada kemungkinan untuk tergelincir ke dalam penyembahan terhadap diri sendiri (self-worship) dan ketergantungan pada amal saleh.
Kedudukan Allah dalam batin dan keyakinan hamba haruslah ditempatkan sebagai tujuan awal dan akhir dari seluruh peristiwa hidup beserta segala yang melingkupinya. Dengan begitu, seorang hamba akan menyadari bahwa posisi mereka sebetulnya tidak ada, dan keberadaan mereka selalu berada dalam bayang-bayang Wujud yang Hakiki. Jika proses kesadaran dan ilham yang didapatkan oleh manusia sudah sampai pada tahap demikian, mereka akan menyadari betapa pentingnya menjaga adab kepada Allah ketika beramal, baik dalam bentuk kecil maupun besar.
Hal yang menarik juga untuk ditelaah adalah makolah sebelumnya. Sebelum makolah di atas diuraikan, ada bagian yang sungguh memberikan kesan pemahaman terbalik dan sangat membangkitkan kepercayaan diri atas seluruh rahmat Allah SWT. Ibnu Athaillah berkata:
ربما فتح لك باب الطاعة وما فتح لك باب القبول وربما قضى عليك بالذّنب فكان سببا فى الوصول
"Terkadang Allah membukakan bagimu pintu ketaatan namun tidak membukakan pintu penerimaan. Dan terkadang Allah menetapkan atasmu perbuatan dosa, namun itu justru menjadi sebab sampainya kamu kepada Allah."
Coba Anda bayangkan betapa "sadis" dan tajamnya makolah ini. Kita seperti diajak untuk memikirkan ulang hakikat dari segala bentuk ketaatan kita kepada Allah. Apakah ketaatan itu sudah benar tujuan dan tumpuannya hanya kepada Allah, atau justru ada motif-motif tertentu yang menggelinding di sekitarnya?
Tentunya, penulis ingin mengajak kita agar tidak melihat dosa hanya sebatas kutukan dan murka Allah kepada hamba-Nya. Bisa saja dosa itu menjadi sebab sampainya seorang hamba kepada Allah ketika terbesit dalam hati mereka harapan untuk selalu mendapat petunjuk dan ampunan-Nya. Sungguh, ketaatan dan dosa sebesar apa pun kuantitas serta kualitasnya, tidak akan berpengaruh sedikit pun pada kerajaan dan kemuliaan Allah.
Walhasil, saya begitu mengagumi cara pandang Ibnu Athaillah dalam usaha membangun infrastruktur batin manusia, yang selalu mempunyai dua sisi yang bisa saja terbalik antara satu dan lainnya.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0

