Meninjau Kembali Makna Ummi: Benarkah Nabi Muhammad Tidak Bisa Membaca dan Menulis?

Jul 24, 2026 - 10:35
Jul 24, 2026 - 10:47
 0
Meninjau Kembali Makna Ummi: Benarkah Nabi Muhammad Tidak Bisa Membaca dan Menulis?

Bagi mayoritas umat Islam, label bahwa Nabi Muhammad  adalah seorang yang buta huruf (tidak bisa membaca dan menulis) sudah menjadi doktrin yang mapan. Dalam tradisi keilmuan klasik, para ulama menetapkan status "ummi" (buta huruf) ini bukan tanpa alasan. Alasan utamanya adalah untuk menjaga kesucian Al-Qur'an. Dengan kondisi Nabi yang tidak bisa membaca dan menulis, tidak ada celah bagi kaum kafir Quraisy kala itu untuk menuduh bahwa Al-Qur'an adalah karangan Nabi Muhammad atau hasil menyontek dari kitab-kitab suci sebelumnya. Status "buta huruf" justru menjadi bukti mukjizat yang kuat.

Namun, di era modern sekarang, muncul sebuah pertanyaan kritis: Apakah Nabi Muhammad benar-benar tidak bisa membaca dan menulis hingga akhir hayatnya? Di bawah ini terdapat beberapa argumen yang mendukung bahwa sejatinya Rasulullah SAW tidak buta huruf.

1. Ayat Al-Qur'an Hanya Menjelaskan Nabi Tidak Membaca Kitab Terdahulu

Salah satu ayat yang sering dijadikan dalil bahwa Nabi buta huruf adalah Surat Al-Ankabut ayat 48. Allah  berfirman:

وَمَا كُنْتَ تَتْلُوْا مِنْ قَبْلِهٖ مِنْ كِتٰبٍ وَّلَا تَخُطُّهٗ بِيَمِيْنِكَ اِذًا لَّارْتَابَ الْمُبْطِلُوْنَ ۝٤٨

Artinya: Engkau (Nabi Muhammad) tidak pernah membaca suatu kitab pun sebelumnya (Al-Qur’an) dan tidak (pula) menuliskannya dengan tangan kananmu. Sekiranya (engkau pernah membaca dan menulis,) niscaya orang-orang yang mengingkarinya ragu (bahwa ia dari Allah).

Jika kita melihat redaksi al-Qur’an, ayat ini menggunakan kata min qablihi (sebelumnya/sebelum Al-Qur'an turun). Artinya, ayat ini menegaskan bahwa Nabi tidak pernah membaca dan menulis kitab-kitab suci keagamaan terdahulu (Taurat, Zabur dan Injil) sebelum beliau menerima wahyu. Ayat ini tidak secara mutlak memvonis bahwa Nabi Muhammad sama sekali tidak punya kemampuan literasi sepanjang hidupnya.

2. Kebijakan Membebaskan Tawanan Perang Badar

Dalam catatan sejarah Perang Badar. Setelah umat Islam berhasil menang dan menawan beberapa orang kafir Quraisy, Nabi Muhammad mengambil kebijakan yang sangat progresif terkait tawanan perang. Bagi tawanan yang tidak mampu menebus diri dengan uang, Nabi memberikan syarat alternatif, yaitu mereka harus mengajar anak-anak Madinah membaca dan menulis.

Secara logika, seorang pemimpin yang sangat menekankan pentingnya literasi bagi umatnya tentu memahami esensi dari membaca dan menulis itu sendiri. Sangat bias jika melihat bagaimana sosok yang disebut "tidak bisa membaca" justru menjadikan literasi sebagai alat diplomasi dan penebusan kebebasan.

3. Peristiwa Perjanjian Hudaibiyah: Nabi Menghapus Sendiri Tulisan

Fakta sejarah yang paling eksplisit terekam dalam peristiwa Perjanjian Hudaibiyah (628 M). Saat itu,  sayyidina Ali bin Abi Thalib bertindak sebagai sekretaris yang menulis naskah perjanjian. Ketika sayyidina Ali menulis kalimat "Ini adalah keputusan Muhammad Rasulullah", utusan kafir Quraisy protes dan menolak diksi "Rasulullah" dicantumkan. Nabi kemudian memerintahkan Ali untuk menghapusnya dan menggantinya dengan "Muhammad bin Abdullah". Karena rasa hormatnya yang tinggi, Ali enggan menghapus gelar kenabian tersebut.

Apa yang terjadi selanjutnya? Dalam Shahih Bukhari, disebutkan bahwa Nabi Muhammad meminta Ali menunjukkan mana letak tulisan "Rasulullah", lalu beliau mengambil lembaran tersebut dan menghapusnya sendiri dengan tangan beliau, kemudian menuliskan perubahannya. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Nabi tahu dan mengenali bentuk tulisan tersebut.

فَقَالُوا لَا نُقِرُّ بِهَا فَلَوْ نَعْلَمُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ مَا مَنَعْنَاكَ لَكِنْ أَنْتَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ أَنَا رَسُولُ اللَّهِ وَأَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ ثُمَّ قَالَ لِعَلِيٍّ امْحُ رَسُولُ اللَّهِ قَالَ لَا وَاللَّهِ لَا أَمْحُوكَ أَبَدًا فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْكِتَابَ فَكَتَبَ هَذَا مَا قَاضَى عَلَيْهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ

Artinya : Maka kaum Musyrikin berkata: "Kami tidak setuju, sebab seandainya kami mengetahui bahwa kamu adalah Rasulullah, tentu kami tidak akan menghalangimu, tapi kamu adalah Muhammad bin 'Abdullah." Beliau berkata: "Aku adalah Rasulullah dan aku adalah Muhammad bin 'Abdullah." Kemudian Beliau berkata kepada 'Ali: "Hapuslah kalimat Muhammad Rasulullah!" 'Ali berkata: "Demi Allah, aku tidak akan menghapusnya untuk selamanya." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengambil surat perjanjian itu lalu menuliskan: "Ini adalah keputusan yang ditetapkan oleh Muhammad bin 'Abdullah. (HR. Al-Bukhari No. 2699, Kitab al-Sulh)

4. Dalam Hadis, Nabi Pernah Mengeja Huruf

Ada momen di mana Nabi Muhammad menunjukkan kepada kita semua bahwa ia bisa mengeja kata. Salah satunya adalah hadis tentang fitnah Dajjal. Nabi menjelaskan ciri-ciri Dajjal kepada para sahabat, lalu beliau mengeja tulisan yang ada di dahi Dajjal:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: "مَا مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا وَقَدْ أَنْذَرَ أُمَّتَهُ الأَعْوَرَ الكَذَّابَ، أَلَا إِنَّهُ أَعْوَرُ، وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ، وَمَكْتُوبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ: ك ف ر"

Artinya: Dari Anas bin Malik RA, bahwa Rasulullah SAW bersadba: Tidak ada dari kalangan para nabi melainkan ia akan memperingatkan umatnya tentang pendusta bermata satu, ketahuilah sesungguhnya ia bermata satu, dan sesungguhnya tuhanmu tidak bermata satu, di antara dua dahinya tertulis Kaf, Fa, Ra. (HR. Muslim No. 2933, Kitab al-Fitan wa Asyrotu al-Sa’ah)

Meskipun Rasul menegaskan bahwa tulisan itu bisa dibaca oleh semua orang, akan tetapi isyarat itu ditujukan nanti di waktu akhirat. Kemampuan mengeja huruf demi huruf ini menjadi indikasi bahwa beliau memahami simbol-simbol aksara.

5. Pengalaman Nabi Menjual Dagangan Khadijah ke Syam

Sebelum diangkat menjadi Nabi, Muhammad adalah seorang pedagang internasional yang sukses. Beliau dipercaya oleh Khadijah untuk membawa barang dagangan kafilah hingga ke negeri Syam (Suriah). Dalam dunia perdagangan lintas negara di masa itu, seorang pengurus kafilah dagang pasti bisa mencatat barang masuk, menghitung keuntungan, serta mengenali dokumen atau segel dagang. Mustahil rasanya bisnis sebesar itu dikelola oleh seseorang yang buta aksara total tanpa kecerdasan finansial dan literasi dasar.

6. Peristiwa Hadisul Qirthas

Menjelang wafatnya, saat Nabi Muhammad mengalami sakit keras, terjadi sebuah peristiwa yang dikenal dengan nama Hadisul Qirthas. Nabi berkata kepada para sahabat yang berkumpul di kamarnya:

لَمَّا حُضِرَ النَّبِيُّ ﷺ قَالَ، وَفِي الْبَيْتِ رِجَالٌ فِيهِمْ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ قَالَ: هَلُمَّ أَكْتُبْ لَكُمْ كِتَابًا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ

Artinya: "Ketika Rasulullah SAW mendekati ajalnya ia bersabda: Kemarilah, aku akan tuliskan untuk kalian sebuah kitab (wasiat) yang membuat kalian tidak akan tersesat setelahku." (HR. Bukhari No. 7366 Kitab al-I’tisham bi al-Kitab wa al-Sunnah).

Nabi menggunakan kata "Aktub lakum" (Aku tuliskan untuk kalian). Meskipun akhirnya wasiat itu tidak sempat ditulis karena terjadi perdebatan di antara para sahabat yang mengizinkan rasul menulis dan tidak dikarenakan sakit yang diderita oleh Rasul. Akan tetapi ucapan Nabi ini mengisyaratkan bahwa di akhir hayatnya, beliau memiliki kemampuan atau setidaknya otoritas langsung untuk menulis.

Berdasarkan argumen, catatan sejarah, diksi ayat dan hadis yang telah dipaparkan dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa sejatinya Rasulullah SAW bukanlah seorang yang buta huruf dan tidak bisa membaca menulis. Melainkan Rasulullah buta huruf-huruf dari kitab suci terdahulu. Karena sedari kecil, Nabi Muhammad SAW tidak pernah mendapatkan pelajaran atau pendidikan mengenai kitab suci terdahulu. Alhasil wajar jika Rasulullah buta akan huruf-huruf dari kitab suci sebelumnya. Sehingga dapat menjaga martabat Rasulullah SAW yang cerdas dalam literasi dan tidak buta huruf serta tetap menjaga kemurnian al-Qur’an dari plagiarisme kitab suci terdahulu.

Penulis: M.Wildan Saputra

(Mahasantri Ma'had Aly Sa'iidusshiddiqiyah Jakarta)

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 1
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0
Ahmad Nawawi Pengurus Wilayah/Cabang Nusa Tenggara Barat