Menjadi Muslim yang Tampil Bersih Lahir dan Batin: Meneladani Petuah Habib Abubakar Assegaf
Di tengah hiruk-pikuk zaman yang makin tak menentu, di mana etika kerap kalah oleh estetika digital, nasehat para ulama habaib menjadi suluh yang menuntun kita tetap dalam rel nilai-nilai Islam yang agung. Salah satu tokoh yang patut dijadikan panutan adalah Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf dari Gresik, yang dalam petuahnya menyuguhkan empat nasihat penting untuk membentuk pribadi muslim yang utuh — dari lahir hingga batin.
Menjaga Penampilan sebagai Cermin Hati
Habib Abubakar memulai nasihatnya dengan ajakan untuk menjaga penampilan lahiriyah. Namun, ini bukan sekadar tentang estetika. Menurut beliau, penampilan adalah cerminan batin. Bila seorang muslim tampil rapi, bersih, dan sopan, hal itu mencerminkan hati yang teratur dan penuh penghormatan terhadap nikmat Allah. Ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Adh-Dhuha ayat 11:
“وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ”
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka bicarakanlah.”
Penampilan baik juga menjauhkan kita dari tempat-tempat maksiat dan menggerakkan hati menuju majelis-majelis kebaikan. Habib Luthfi bin Yahya, salah satu tokoh habaib besar dari Pekalongan, dalam banyak ceramahnya juga menekankan bahwa merawat penampilan bukan bentuk riya, tapi bukti penghormatan terhadap diri dan makhluk Allah. Dalam satu kesempatan beliau berkata, “Pakai pakaian terbaikmu saat menghadap Allah, jangan murahan saat beribadah. Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan.”
Bersihkan Hati dari Dendam dan Iri
Nasehat kedua dari Habib Abubakar adalah membersihkan hati dari iri dan dendam. Menurut beliau, mustahil surga dihuni oleh hati yang masih penuh benci. Ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW:
“لا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ”
“Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi.” (HR. Muslim).
Sikap iri hati sejatinya bentuk ketidakridhaan atas ketetapan Allah. Habib Umar bin Hafidz pernah menegaskan bahwa “Cinta yang hakiki tak pernah tumbuh dari hati yang cemburu kepada takdir orang lain.” Kita diajarkan untuk bersih hati, sebagaimana para ulama salaf yang jika berbeda pendapat, tetap menjaga silaturahmi.
Imam Faqih Abu Al-Laits As-Samarqandi memberi pelajaran yang menyentuh: “Pendengki akan menerima lima hukuman sebelum dengkinya mencapai orang yang didengkinya: kesedihan tanpa ujung, musibah tanpa pahala, celaan tanpa pujian, kemurkaan Tuhan, dan tertutupnya pintu taufik.”
Hidup Rukun dan Saling Mengasihi
Habib Abubakar menekankan pentingnya hidup rukun dan mengasihi sesama. Ia mengingatkan bahwa bala dan musibah sering kali turun karena kita saling membenci, bukan karena kafir atau tidaknya seseorang. Ketika masyarakat hidup dalam permusuhan, jangan berharap rahmat turun.
Rasulullah SAW bersabda:
“لَا يَرْحَمُ اللَّهُ مَنْ لَا يَرْحَمُ النَّاسَ”
“Allah tidak akan menyayangi orang yang tidak menyayangi sesamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi dari Kwitang Jakarta pun sering menekankan dalam pengajiannya bahwa “Islam bukan hanya sujud, tapi juga memanusiakan manusia.” Maka, semangat kasih sayang bukanlah atribut eksklusif untuk keluarga, tapi meluas ke masyarakat, bahkan kepada mereka yang berbeda.
Hidupkan Hati dengan Zikir
Nasehat terakhir dari Habib Abubakar adalah agar hati selalu dibasahi zikir. Zikir bukan hanya di masjid, tapi juga di jalan, di rumah, bahkan saat bekerja. Zikir adalah cahaya. Tanpa zikir, hati akan gelap, sekalipun rumahnya terang benderang.
Allah SWT berfirman:
“أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ”
“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Habib Munzir Al-Musawa dari Majelis Rasulullah SAW juga kerap mengingatkan pentingnya zikir dalam kehidupan modern yang bising. Beliau mengatakan: “Jika tak sempat shalat malam, sempatkanlah lisanmu basah oleh zikir. Itu bisa mengganti dan menyehatkan jiwamu.”
Sebuah Refleksi: Habaib dan Cahaya Tradisi
Para Habaib di Indonesia seperti Habib Abubakar Assegaf, Habib Luthfi, Habib Ali Kwitang, Habib Munzir, hingga Habib Jindan, memiliki benang merah yang sama: menghidupkan Islam sebagai jalan kasih, bukan kebencian. Mereka bukan hanya pewaris darah Rasulullah, tapi juga pewaris spiritualitas akhlak Rasul.
Di tengah zaman yang penuh kebisingan—baik kebisingan politik, media sosial, maupun konflik identitas—nasehat-nasehat seperti ini menjadi oase yang meneduhkan. Mereka tak datang dengan ancaman, tapi dengan kelembutan. Mereka mengajarkan bahwa menjadi muslim bukan sekadar identitas formal, tapi aktualisasi ruhani yang tampak dalam sikap sehari-hari.
Akhirnya, mari kita tutup tulisan ini dengan doa yang sering dipanjatkan para Habaib:
“Ya Allah, jadikan kami hamba-Mu yang indah lahir dan batin, rapi penampilannya, bersih hatinya, rukun hidupnya, dan basah lisannya dengan zikir kepada-Mu.”
Amin ya Rabbal ‘Alamin.
Penulis adalah Dr. Muhammad Ash-Shiddiqy,M.E. (Dosen Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Purwokerto)
Apa Reaksi Anda?
Suka
3
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0

