Gus Nadir: Tarekat Benteng Terakhir Bangsa
Jakarta, JATMA ASWAJA — Cendekiawan Nahdlatul Ulama, Dr. Nadirsyah Hosen atau akrab disapa Gus Nadir, menegaskan bahwa tarekat dan zikir adalah benteng terakhir bangsa. Pernyataan tersebut ia sampaikan melalui akun Instagram pribadinya, menjelang pelaksanaan Zikir Kebangsaan dan Ikrar Bela Negara di Masjid Istiqlal, Minggu (10/8/2025) malam.
“Ada benteng yang tak terlihat di peta, tak terukir di batu, dan tak pernah runtuh oleh meriam—itulah benteng yang dibangun di dada para ahli dzikir,” kata Gus Nadir.
Ia mengingatkan bahwa sejak masa penjajahan, ketika kekuatan senjata tak lagi mampu menahan gempuran, para pengamal tarekat tetap berdiri tegak menjadi benteng spiritual bangsa. Di masa lalu, zikir tak hanya menjadi ritual, tetapi juga sumber keberanian untuk melawan penjajahan, sebagaimana yang pernah ditunjukkan para salik di Aceh, Banten, Sulawesi, hingga para pengamal tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah di Chechnya.
“Zikir bagi mereka bukan sekadar getaran lidah, tapi api yang membakar takut dan menyalakan berani,” ujarnya.
Menurut Gus Nadir, para ahl az-zikr adalah tempat bangsa mencari arah ketika menghadapi krisis. Zikir yang mereka warisi bukanlah milik satu organisasi, melainkan bagian dari identitas bangsa yang tumbuh dari sejarah panjang perjuangan.
Meski Indonesia telah merdeka dari penjajahan asing, Gus Nadir menilai tantangan bangsa belum berakhir. “Kita masih dijajah kemiskinan, perpecahan, kebodohan, dan ketidakadilan. Perjuangan belum usai, hanya medan tempurnya yang berganti,” tegasnya.
Ia menutup pesannya dengan doa agar bangsa ini selalu dilindungi dan dipersatukan oleh cinta dan ketaatan kepada Tuhan.
Acara Zikir Kebangsaan dan Ikrar Bela Negara di Masjid Istiqlal malam ini diharapkan menjadi momentum bagi masyarakat untuk memperkuat persatuan, memelihara nilai spiritual, dan meneguhkan komitmen kebangsaan.
Apa Reaksi Anda?
Suka
9
Tidak Suka
1
Cinta
3
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
4

