Kisah Al-Ashma’i: Ulama Jago Puisi yang Dijuluki Setan
Al-Ashma’i mendapat julukan "شيطان الشعر" apabila diterjemah ke dalam bahasa Indonesia memiliki arti setan puisi atau iblis puisi. Ini merupakan istilah yang digunakan dalam tradisi sastra Arab untuk menggambarkan seseorang yang memiliki kemampuan luar biasa dalam menciptakan puisi, seolah-olah kemampuan mereka berasal dari kekuatan supranatural. Jadi penggunaan istilah tersebut bukan karena kejahatan, tapi karena kejeniusannya yang dianggap bukan manusia biasa.
Siapa yang tak kenal dengan Al-Ashma’i, seorang ulama yang terkenal dengan kejeniusannya dalam hal sastra Arab. Yang belakangan ini namanya kembali ramai dibicarakan di media sosial berkat karyanya yang apik dan menggugah banyak orang. Ia adalah penulis qasidah Shoutus Shofiril Bulbul atau yang terkenal dengan qasidah Thob-Thobi-Tob yang banyak membuat orang penasaran.
Lalu mengapa beliau dijuluki dengan setan (setan puisi) terutama oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid? Mari simak kisahnya!
Al-Ashma’i mendapat julukan "شيطان الشعر" apabila diterjemah ke dalam bahasa Indonesia memiliki arti setan puisi atau iblis puisi. Ini merupakan istilah yang digunakan dalam tradisi sastra Arab untuk menggambarkan seseorang yang memiliki kemampuan luar biasa dalam menciptakan puisi, seolah-olah kemampuan mereka berasal dari kekuatan supranatural. Jadi penggunaan istilah tersebut bukan karena kejahatan, tapi karena kejeniusannya yang dianggap bukan manusia biasa.
Kehidupan Awal sang Ahli Sastra
Pada masa kejayaan Dinasti Abbasiyah, masa yang dikenal dengan kemajuan kelimuan dan kebudayaan yang pesat. Lahirlah seorang ulama intelektual terkemuka yang bernama Al-Ashma’i. Berlokasi di kota Bashrah yang terletak di Irak.
Nama aslinya adalah Abu Said Abdul Malik bin Quraib bin Abdilillah bin Ashma’i. Salah satu begawan ilmu bahasa Arab dan sangat ahli syair serta pengetahuan nasab-nasab tertentu. Di tengah lingkungan yang kaya akan tradisi pembelajaran dan budaya. Al-Ashma’i tumbuh dan dapat mengembangkan diri menjadi seorang cendekiawan yang sangat dihormati.
Julukan Al-Ashma’i merupakan sebuah julukan yang berasal dari nama kakeknya yang ternyata memiliki beberapa makna, yaitu hati yang sabar, akal yang cerdas, orang yang cerdas secara akal dan spiritual dalam bahasa Arab dinamakan “رجل أصمع”, pemberani, dan berbudi pekerti.
Al-Ashmai belajar dan berguru langsung kepada ulama terkemuka pada masanya, hingga ia mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang tradisi sastra dan linguistik Arab yang kaya dan beragam.
Julukan “Setan Puisi” dari Khalifah Harun Ar-Rasyid
Suatu ketika, Khalifah Harun Ar-Rasyid dibuat terpukau oleh kemampuan Al-Ashma’i dalam melafalkan ribuan bait puisi secara spontan tanpa kesalahan. Bahkan, ia bisa menyebut sumber dan sanad suatu bait hanya dengan mendengar satu larik. Karena kehebatannya yang nyaris di luar nalar itu, sang Khalifah menjulukinya dengan sebuah "شيطان الشعر" atau setan puisi.
Bukan Cuma Hafal, tapi Gila Ilmu
Banyak sekali kontribusi yang diberikan Al-Ashma’i terhadap pengembangan sastra Arab, diantaranya melalui upayanya dalam mengumpulkan berbagai puisi kuno, sehingga berhasil melestarikan banyak warisan berharga untuk dinikmati oleh generasi yang akan datang. Ia juga melakukan analisis mendalam terhadap struktur dan kekayaan bahasa Arab.
Karena keahliannya yang luar biasa, ia juga dikenal sebagai pendidik yang hebat, Al-Ashma’i banyak dicari oleh para khalifah dan Pangeran Abbasiyah untuk berpartisipasi dalam diskusi intelektual dan memberikan wawasan berharga tentang berbagai persoalan kebahasaan dan kesastraan. Ia juga berhasil membimbing banyak murid dan mewariskan ilmu yang mendalam terhadap sastra dan bahasa Arab.
Al-Ashma’i dikenal memiliki pengetahuan luas dan daya ingat luar biasa, bahkan mampu melafalkan bagian-bagian panjang puisi dari ingatannya tanpa kesalahan. Ia sangat mengetahui hal ihwal orang Arab, mulai dari syair, prosanya, riwayat-riwayatnya sampai detail bahasa Arabnya, hingga hampir setiap riwayat tentang syair Arab dinisbahkan kepadanya dan cukup banyak ulama yang mengakui kepakaran dan keahlian beliau dalam syair.
Al-Ashma’i juga hafal 10.000 arjuzah (syair ber-bahr (rumus) rajaz, مستفعلن مستفعلن مستفعلن مستفعلن # مستفعلن مستفعلن) kepeduliannya yang sangat tinggi terhadap syair seperti contoh ini menjadi salah satu legitimasi kuat kepakarannya dalam hal ihwal Arab khususnya syair, makanya tidak berlebihan jika dijuluki "شيطان الشعر" sang setan puisi atau iblis puisi bahasa Arab yang sangat ulung.
Suka Blusukan ke Kampung-Kampung
Karena kecintaannya yang begitu besar pada kesastaraan Arab, Al-Ashma’i suka sekali terjun langsung ke kampung-kampung untuk mendengarkan syair dan kosa kata lisan dari orang-orang badui asli. Ia melakukan blusukan ke banyak kampung bukan karena ingin mencari nama atau muka, melainkan memang benar-benar untuk menggali kesastraan bahasa Arab yang masih murni, menyelami syair dan budaya Arab langsung penutur aslinya.
Al-Ashma’i melakukan demikian karena bahasa di kampung-kampung itu belum banyak terjamah oleh orang luar. Dan sudah menjadi rahasia umum di kalangan ulama dulu, apabila ingin menguasai bahasa asli maka perlu melakukan rihlah ke kampung-kampung.
Al-Ashma’i telah meninggalkan warisan besar dalam dunia sastra Arab. Semangat belajarnya, kedalaman ilmunya, dan caranya mendekati budaya secara langsung patut jadi inspirasi bagi kita hari ini. Dari kisah ini, bisa dilihat bahwa kejeniusan itu bukan soal bakat, tapi juga karena kerja keras, rasa ingin tahu, dan totalitas dalam belajar. Julukan “setan puisi” bukan hinaan, tapi justru bentuk pengakuan atas kehebatannya dimata para khalifah dan ulama.
Referensi:
Abu Al-Barakat Al-Anbari, Nuzhah al-Alba’fi Thabaqaat al-Udaba, hal.102.
Khairuddin Az-Zurkalii, Al-A’laam Qaamus Tarajum, jilid 4, hal. 162).
Khairuddin Ibnu Khulakan, Wafayaat al-A’yaan wa Anba’ Abna’ Az-Zaman, jilid 3, hal. 170-176.
Kautsar Asy-Syaibani (2011), Lughah Asy-Syii’ri fi Diwan Al-Ashmuliyaat, hal.16-17.
Penulis: Atikah Sa’diatus Zahra (Alumni Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in, Lampung Mahasantri Ma’had Aly Sa’iidusshiddiqiyah, Jakarta)
Apa Reaksi Anda?
Suka
1
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0

