Sekjend JATMA Aswaja Kecam Framing Negatif Pesantren dalam Tayangan Trans7, Desak Klarifikasi dan Permintaan Maaf Terbuka
Jakarta, 15 Oktober 2025 — Sekretaris Jenderal Jam’iyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah Ahlussunnah wal Jama’ah (JATMA Aswaja), Dr. KH. A. Helmy Faishal Zaini menyampaikan pernyataan sikap tegas terhadap tayangan di stasiun televisi Trans7 yang dinilai menampilkan framing keliru dan menyesatkan tentang pesantren. Tayangan tersebut dianggap mencederai citra dan kehormatan pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang menjadi pilar utama pembentukan karakter bangsa Indonesia.
Ia menegaskan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Nusantara yang telah berkontribusi besar terhadap kecerdasan dan moral bangsa jauh sebelum sistem pendidikan kolonial diperkenalkan oleh pemerintah Hindia Belanda.
“dr. Soetomo pernah mengatakan bahwa jauh sebelum pemerintah Hindia Belanda mendirikan sekolah-sekolah, pesantrenlah yang menjadi sumber ilmu dan pengetahuan bagi masyarakat Nusantara. Ironisnya, kutipan historis yang seharusnya menegaskan kontribusi luhur pesantren justru digunakan secara keliru dalam tayangan Trans7,” ujar Gus Helmy.
Dalam pernyataannya, JATMA Aswaja menyampaikan tujuh poin sikap resmi:
-
Memprotes keras tayangan Trans7 yang memuat framing negatif terhadap pesantren. Pesantren adalah lembaga pendidikan asli Indonesia yang telah mencerdaskan bangsa sejak berabad-abad lalu.
-
Menilai tindakan tersebut melanggar etika jurnalistik, karena mengubah konteks kutipan sejarah dan menampilkan narasi yang berpotensi merusak reputasi lembaga keagamaan.
-
Menegaskan peran pesantren bukan hanya sebagai institusi keagamaan, tetapi juga pusat peradaban yang melahirkan tokoh-tokoh kebangsaan, memperjuangkan kemerdekaan, serta menanamkan nilai-nilai toleransi dan kebinekaan.
-
Menuntut Trans7 untuk segera memberikan klarifikasi resmi dan permohonan maaf terbuka kepada publik, khususnya kepada komunitas pesantren di seluruh Indonesia.
-
Mengimbau seluruh santri, kiai, dan alumni pesantren agar menanggapi persoalan ini secara bermartabat dan proporsional, dengan tetap menegakkan nilai-nilai akhlaqul karimah yang menjadi ciri khas tradisi pesantren.
-
Mendorong lembaga penyiaran dan media massa untuk menjunjung tinggi prinsip kejujuran, akurasi, dan keadilan dalam setiap pemberitaan, terutama yang berkaitan dengan isu keagamaan dan pendidikan Islam.
-
Menegaskan kembali komitmen pesantren sebagai benteng moral dan intelektual bangsa, yang akan terus menebarkan ilmu, akhlak, dan kasih sayang di tengah masyarakat.
Gus Helmy menambahkan, pesantren adalah rumah besar bersama umat — tempat ilmu dirawat dengan adab, dan perbedaan dirangkul dalam kebijaksanaan. “Segala bentuk upaya yang mencederai kehormatan pesantren sama dengan mengusik akar jati diri bangsa,” tegasnya.
Melalui pernyataan ini, JATMA Aswaja mengingatkan seluruh pihak, khususnya lembaga penyiaran, untuk lebih berhati-hati dan bertanggung jawab dalam menayangkan konten yang menyangkut lembaga keagamaan dan sejarah bangsa. Pesantren, menurut Helmy, bukan sekadar bagian dari masa lalu Indonesia, tetapi juga pilar utama yang menopang masa depan moral dan peradaban bangsa.
Apa Reaksi Anda?
Suka
2
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0

