” KIAT MENDIDIK ANAK DALAM AL-QUR'AN”
Di jalan kecil yang tidak bernama, Kafa bersama tiga kawannya bolak-balik bersepeda. Sambil mengayuh, mereka juga menyalakan musik dari sepeda masing-masing. Sepeda Kafa berwarna hitam dengan stiker merah. Di bagian belakangnya terpasang bendera Merah Putih yang ia minta untuk dipasangkan.
Dari sekian banyak pekerjaan yang pernah saya tekuni, mengurus anak merupakan pekerjaan yang paling melelahkan. Pekerjaan ini bukan hanya menguras tenaga dan pikiran, melainkan juga melatih perasaan. Sejak dahulu, saya memiliki impian menjadi seorang ayah yang bisa menemani anak-anak bermain dan menyaksikan mereka tumbuh besar.
Mengasuh anak bukanlah perkara mudah. Sudah tentu melelahkan karena membutuhkan tenaga, pikiran, dan kesabaran. Apalagi pada zaman sekarang, ketika kemajuan teknologi membuat masyarakat perlahan kehilangan karakteristiknya sebagai dirinya sendiri. Hal itu terjadi karena begitu mudahnya kebudayaan luar diakses, sementara kita belum memiliki kepercayaan diri yang cukup kuat terhadap keluhuran kebudayaan sendiri.
Dalam kebudayaan suku Sasak, terdapat tiga istilah yang digunakan untuk menjelaskan proses pengasuhan anak. Pertama, bedede. Kedua, bedengah. Ketiga, memautang.
Bedede atau menimang berarti bagaimana orang tua mencurahkan perhatian, kasih sayang, dan cinta kepada anaknya. Bedede dilakukan untuk membangun ikatan perasaan antara orang tua dan anak. Biasanya, praktik ini dilakukan oleh seorang ibu kepada anaknya yang masih dalam masa menyusu, yakni sejak lahir hingga berusia dua tahun.
Dalam prosesnya, ibu, nenek, ayah, atau anggota keluarga lainnya yang sedang melakukan bedede akan menggendong bayi sambil melantunkan nyanyian, seperti selawat atau lagu-lagu tradisional. Salah satunya adalah lagu Kadal Nongaq. Saya masih ingat betul harmoni lagu tersebut beserta liriknya.
Kadal nongaq leq kesambiq
Benang katak setakilan
Aduh dende, mun cempake siq kembang sandat
Saq sengake jari sahabat
Tajah onyah ndek ne matiq
Payu salaq kenjarian
Aduh dende, mun cempake siq kembang sandat
Saq sengake jari sahabat
Musim panas sekat gati araq aiq
Dateng angin jangka layu kekayonan
Endeq piwal pangeran pade matiq
Sai bangge tentu salaq kejarian
Secara substansial, lagu Kadal Nongaq mengandung pesan tentang pentingnya mendengarkan nasihat kedua orang tua dan menghormati orang yang lebih tua.
Kemudian ada bedengah. Dalam keluarga suku Sasak, bedengah lebih dekat maknanya dengan proses pengasuhan anak. Bedengah merupakan tindakan orang tua melepaskan anak untuk belajar dari berbagai hal yang belum diketahuinya, tetapi tetap berada dalam pengawasan. Anak diberi kesempatan untuk mengenali lingkungannya secara bertahap, sedikit demi sedikit, hingga mampu memahami kehidupan sosial di sekitarnya.
Dalam proses ini, seluruh anggota keluarga memainkan peran penting sebagai teladan bagi anak, baik ayah dan ibu, kakek dan nenek, bibi dan paman, maupun kakak terhadap adik-adiknya.
Yang terakhir adalah memautang. Memautang atau beradaptasi merupakan proses ketika orang tua mengajarkan anak untuk mengenal lingkungan sosial di luar keluarga sekaligus memahami peran sosialnya. Sikap positif orang tua sangat diperlukan untuk membimbing anak sesuai dengan tahapan perkembangannya.
Pada fase ini, orang tua menganggap bahwa anak telah tumbuh dan berkembang sehingga sudah sepantasnya dilatih kemampuan sosialnya melalui proses adaptasi dan interaksi dengan masyarakat. Dengan begitu, anak akan belajar bagaimana menjadi anggota masyarakat yang baik serta menaati aturan-aturan yang berlaku di lingkungan sosialnya.
Namun, dalam proses penyesuaian diri dengan lingkungan baru, anak sering kali mengalami hambatan. Oleh karena itu, orang tua dalam tradisi Sasak semestinya tetap mendampingi anak ketika memperkenalkannya kepada lingkungan atau kelompok sosial yang baru.
Saya kemudian mencoba menghubungkan ketiga konsep tersebut dengan pandangan Al-Qur'an mengenai pendidikan dan pola pengasuhan anak. Ada beberapa ayat Al-Qur'an yang menurut saya penting untuk dibaca sebagai pijakan awal dalam proses mendidik anak. Salah satunya adalah Surah Luqman ayat 13–19. Allah berfirman:
وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِۗ اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ (13). وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ (14). وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًاۖ وَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ (15). يٰبُنَيَّ اِنَّهَآ اِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ اَوْ فِى السَّمٰوٰتِ اَوْ فِى الْاَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللّٰهُۗ اِنَّ اللّٰهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ (16). يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ (17). وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍ (18). وَاقْصِدْ فِيْ مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَۗ اِنَّ اَنْكَرَ الْاَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيْرِ (19).
Artinya:
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.’
Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik. Ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
(Luqman berkata), ‘Wahai anakku! Sesungguhnya jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Mahateliti.
Wahai anakku! Laksanakanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar serta bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.
Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.
Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”
Ayat di atas memberikan informasi kepada kita bahwa Luqman, seorang yang dikenal bijaksana, pertama-tama mengajarkan tauhid kepada anaknya dengan memperingatkan bahwa syirik merupakan kezaliman yang nyata.
Mengapa pengajaran tauhid menjadi begitu penting? Sebab, anak harus dilatih untuk membangun imajinasi sedini mungkin tentang kedalaman makna kehidupan manusia. Kesadaran tersebut diharapkan dapat menuntun mereka untuk berbuat baik bukan semata-mata karena paksaan orang tua atau guru, melainkan karena adanya keyakinan bahwa ada kekuatan Mahadahsyat yang senantiasa mengawasi mereka setiap saat.
Dalam pengalaman pribadi, saya mulai mengajarkan anak mengenal Allah ketika usianya memasuki tiga tahun. Sejak usia tersebut, saya mulai memperkenalkan kepadanya bahwa Allah adalah Zat yang menciptakan dirinya, menciptakan nasi yang dimakannya, menciptakan langit di atas, bumi, serta seluruh benda yang dapat dilihatnya.
Ketika berusia empat tahun, menjelang lima tahun, ia mulai memiliki keinginan untuk menjalankan perintah Allah. Ia selalu termotivasi untuk berbuat baik karena cerita tentang surga yang saya sampaikan selalu saya sesuaikan dengan hal-hal yang disukainya. Memang begitulah anak-anak. Mereka perlu diberikan gambaran tentang janji dan penghargaan agar tumbuh motivasi dalam dirinya.
Setelah terbiasa dan mulai memahami adanya perintah serta larangan Allah, dari situlah saya perlahan menjelaskan bahwa menjalankan perintah Allah juga dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, membuang sampah pada tempatnya, belajar dengan tekun, berkata santun, menepati janji, bersikap jujur, tidak memukul, tidak mengolok-olok teman bermain, serta berbagai aktivitas kemanusiaan lainnya yang dapat dipahami oleh anak seusianya.
Tentu saja, selain memberikan penjelasan, hal yang paling penting adalah memberikan contoh kepada anak tentang apa yang kita ajarkan. Dengan demikian, posisi anak dan orang tua sesungguhnya sama-sama sedang belajar. Menurut saya, pendidikan tauhid harus diajarkan sedini mungkin agar anak memiliki ingatan tentang Zat Yang Mahakuasa, tentunya dengan gaya dan bahasa yang sesuai dengan dunia anak-anak.
Selanjutnya, pada ayat 14–15, Allah Swt. mempertegas kewajiban anak terhadap orang tua, yaitu menaati mereka selama tidak diperintahkan melakukan kemaksiatan. Ketaatan anak kepada orang tua merupakan bentuk penghormatan atas jerih payah mereka dalam merawat dan membesarkan anak-anaknya.
Tingkat ketaatan kepada orang tua berbeda dengan ketaatan kepada Allah. Ketaatan kepada orang tua memiliki batasan, sedangkan ketaatan kepada Allah tidak terbatas. Hal menarik lainnya untuk ditelisik adalah bagaimana seorang anak tetap harus mengedepankan akhlakul karimah ketika tidak sependapat dengan orang tuanya. Meskipun memiliki pemikiran yang berbeda, penghormatan dan perilaku baik kepada orang tua tetap harus dijaga.
Hal ini menjadi salah satu landasan pentingnya pembelajaran karakter kepada anak agar mereka mampu mengenali potensi dirinya sekaligus mengendalikan emosi.
Pendidikan karakter tentu telah banyak dibahas oleh para pemikir pendidikan. Charlotte Mason, misalnya, seorang pembaru pendidikan asal Inggris yang pemikirannya berkembang menjelang abad ke-20, banyak memberikan pandangan mengenai pendidikan karakter bagi anak-anak. Bagi Charlotte Mason, pendidikan tidak sekadar merupakan pelatihan untuk membantu anak meningkatkan keterampilan kerja. Lebih dari itu, pendidikan diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan kognitif sekaligus meneguhkan mental anak. Oleh karena itu, pengenalan terhadap ilmu pengetahuan dan Tuhan merupakan dasar bagi pengembangan pengetahuan dan pembentukan karakter.
Sesungguhnya, Al-Qur'an telah menyampaikan hal tersebut jauh sebelumnya melalui firman Allah di atas. Pengenalan tauhid menjadi dasar sekaligus pintu masuk untuk membangkitkan kesadaran anak dalam memahami dirinya dan lingkungan sekitar. Bahkan, ayat-ayat berikutnya menjelaskan dengan lebih terperinci bagaimana anak diperkenalkan pada kewajiban kepada Allah berupa salat dan kewajiban kepada sesama manusia berupa akhlakul karimah.
Hal tersebut tercermin dalam larangan Allah agar manusia tidak memalingkan wajah ketika berhadapan dengan orang lain. Demikian pula dalam ayat terakhir, terdapat perintah untuk menjaga ucapan dan merendahkan suara.
Oleh karena itu, seluruh rangkaian pendidikan yang bertujuan mengembangkan kemampuan kognitif anak harus disampaikan melalui penjelasan dengan bahasa yang dapat mereka pahami. Namun, ketika pendidikan mulai mengarah pada penanaman karakter, prosesnya tidak cukup hanya dijelaskan. Anak dan orang tua harus sama-sama mempraktikkan nilai-nilai kebaikan yang hendak dibiasakan.
Misalnya, dalam membiasakan bahasa yang sopan, menepati janji, berkata jujur, dan disiplin, orang tua juga harus ikut mempraktikkannya. Pendidikan karakter memiliki cara kerja yang berbeda dengan transfer pengetahuan kognitif. Oleh karena itu, Rasulullah saw. sebagai nabi dan rasul telah dibekali keteladanan dalam tutur kata, perilaku, bahkan diam beliau.
Menjadi teladan merupakan hal yang sekarang semakin sulit dan jarang ditemukan dalam lingkungan pendidikan. Hal ini tidak terlepas dari orientasi pendidikan yang sedikit banyak telah bergeser, dari upaya memanusiakan manusia menjadi upaya membudidayakan manusia.
Praktik-praktik pendidikan kemudian tidak jauh berbeda dengan praktik-praktik industri. Peserta didik dipandang sebagai objek yang dapat dikuasai dan dibentuk sesuai dengan kemauan serta kebutuhan pasar. Inilah yang dapat disebut sebagai industrialisasi pendidikan, yang berpotensi membawa bencana besar bagi kehidupan manusia pada masa mendatang.
Pendidikan akhirnya hanya dijadikan kendaraan untuk memenuhi kepentingan dan kebutuhan materialistis, bukan untuk membentuk manusia yang paripurna dan merdeka. Lembaga pendidikan berlomba-lomba memperbaiki gedung dan fasilitas belajar, tetapi sering kali kurang memberikan perhatian terhadap kualitas pengajar, pendidik, dan proses belajar-mengajar.
Sekolah yang baik kemudian diukur dari jumlah siswa yang masuk dan jumlah siswa yang lulus setiap tahun. Bukankah itu mirip dengan pedagang jajanan yang hanya menghitung barang masuk dan barang keluar? Pendidikan seolah-olah telah beroperasi seperti pabrik yang mencetak manusia untuk bekerja bagi korporasi besar.
Setelah lulus sekolah, orientasi pikiran peserta didik sering kali hanya tertuju pada keinginan menjadi karyawan di sebuah perusahaan. Mereka tidak cukup dibekali kemampuan untuk menciptakan peluang kerja sendiri, membangun kemandirian, atau mengembangkan keberanian untuk bersaing. Padahal, peserta didik yang cakap dalam pengetahuan dan memiliki kepribadian luhur merupakan cita-cita pendidikan nasional yang selama ini sering disalahartikan.
Dari kisah Luqman tersebut, kita sebagai seorang muslim sesungguhnya memiliki konsep pendidikan yang begitu kompleks dan lengkap. Pendidikan yang berawal dari transfer pengetahuan dan berujung pada praktik serta pembentukan mental dan karakter. Pendidikan yang berakar pada pengenalan tauhid dan berakhir dengan membumikan nilai-nilainya ke dalam praktik-praktik kemanusiaan.
Bagaimana pendidikan tauhid yang kokoh dihubungkan dengan relasi manusia terhadap alam semesta dan sesamanya merupakan bagian dari upaya membumikan nilai-nilai tauhid agar lebih mudah dimengerti dan dipahami oleh anak-anak.
Pendidikan semacam itu kini semakin didambakan di sejumlah negara maju karena munculnya kesadaran bahwa perkembangan teknologi telah banyak mengikis sisi kemanusiaan. Manusia kemudian menjadi semakin pintar, tetapi dalam banyak hal tidak jauh berbeda dengan mesin-mesin yang mereka ciptakan.
Fungsi kalbu atau kesadaran ruhani manusia perlahan meredup dan mengalami kerusakan. Hal itulah yang membuat sejumlah negara maju kembali memikirkan rumusan baru bagi dunia pendidikan karena mereka mulai menyadari bahwa kehidupan manusia tidak sepenuhnya dapat ditopang oleh mesin.
Oleh sebab itu, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu mengembangkan seluruh potensi manusia, baik potensi akal maupun potensi hati.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0

