Merawat Sanad, Menjernihkan Ruhani : JQHNU Komisariat Yudharta-Ngalah Gelar Kajian Mendalam Qiro’ah ‘Asyroh

Jun 17, 2026 - 17:27
 0
Merawat Sanad, Menjernihkan Ruhani : JQHNU Komisariat Yudharta-Ngalah Gelar Kajian Mendalam Qiro’ah ‘Asyroh

Pasuruan, JATMA ASWAJA - Di balik setiap lafal suci Al-Qur'an yang dilantunkan umat Islam di seluruh dunia, tersimpan kekayaan riwayat dan jalinan sanad (rantai transmisi) yang bermuara langsung pada lisan mulia Rasulullah Muhammad SAW. Kesadaran untuk merawat kemurnian transmisi inilah yang menjadi ruh utama dalam perhelatan akbar ‘Semaan Kubro’, yang diselenggarakan oleh Jam`iyyah Qurra Wal Huffazh An-Nahdliyyah (JQHNU) dan Ikatan Hafidz Hafizhah Ngalah (IHFAZHNA dan HQN Ngalah) pada Senin (15/06/2026).

Rangkaian acara yang berlangsung di Universitas Yudharta ini, tidak sekadar menjadi ajang seremonial, melainkan sebuah oase spiritual yang menggabungkan tradisi pesantren dengan kedalaman akademis. Puncak keilmuan dalam rangkaian ini terejawantahkan melalui Kajian Qiro’ah ‘Asyroh yang digelar melalui platform Zoom Meeting, dengan menghadirkan pakar ilmu Al-Qur'an terkemuka, yakni Prof. Dr. KH. Ahsin Sakho’ Muhammad, Lc. MA.

Dipandu oleh Gus Munawwir Fuadi sebagai moderator, kajian ini mengajak para hadirin untuk menyelami kedalaman makna dari sepuluh qira'at mutawatir yang diakui dalam tradisi keilmuan Islam.

Mengurai Struktur Qiro'ah 'Asyroh sebagai Warisan Keilmuan Al-Qur'an

Dalam pemaparannya yang teduh namun penuh bobot akademis, Prof. Ahsin Sakho' Muhammad yang dibantu santrinya, menguraikan secara mendalam mengenai Qiro’ah ‘Asyroh.

Qiro’ah ‘Asyroh sendiri merupakan sepuluh metode atau variasi bacaan Al-Qur’an yang sah dan mutawatir, yang bersumber dari Rasulullah. Santri Prof. Ahsin Sakho' Muhammad menjelaskan, bahwa Qiro’ah ‘Asyroh terbagi menjadi 2, yakni Qiro’ah ‘Asyroh sughro dan Qiro’ah ‘Asyroh kubro.

Adapun untuk Qiro’ah ‘Asyroh sughro adalah Qiro’ah Sab’ah yang ditambah dengan tiga imam qiro’ah lainnya, yakni Imam Nafi' Al-Madani, Ibnu Katsir Al-Makki, Abu 'Amr Al-Bashri, Ibnu 'Amir Ad-Dimasyqi, 'Ashim Al-Kufi, Hamzah Az-Zayyat, Al-Kisa'i, Abu Ja'far Al-Madani, Ya'qub Al-Bashri, Khalaf Al-Bazzar. Sementara Qiro’ah ‘Asyroh kubro, secara jangkauan lebih luas yang terdapat dalam kitab An-Nasyr fi al-Qira'at al-'Asyr yang ditulis oleh ulama besar Imam Ibnu al-Jazari.

Santrinya juga menyebutkan, adanya dua penjabaran yang berbeda tersebut, dapat berimplikasi pada acara membacanya. Dalam kesempatan ini, tak segan santri beliau memberikan beberapa contoh perbedaan cara membaca dalam Qiro’ah ‘Asyroh. Hal ini tentu menjadikan peserta kajian dapat memahami betul mengenai Qiro’ah ‘Asyroh.

Lebih jauh, Beliau menekankan bahwa perbedaan riwayat bacaan dalam Al-Qur'an bukanlah sebuah kontradiksi, melainkan bukti mukjizat dan rahmat keluwesan syariat bagi berbagai dialek umat manusia.

Selain membedah mengenai Qiro’ah ‘Asyroh, Beliau juga mengapresiasi dan mendukung penuh JQHNU Komisariat Yudharta-Ngalah dalam mempelajari ilmu Qiro’ah.

“ya bagus itu, JQHNU harus menjadi lembaga yang menghidupkan ilmu Qiro’ah, kalau bukan JQHNU siapa lagi” ungkap beliau.

Meski hanya dilaksanakan melalui zoom meeting, para peserta masih antusias mendengarkan dengan seksama setiap penjelasan dari Prof. Ahsin Sakho' Muhammad.

Dalam penutupnya Gus Munawwir menambahkan, bahwasannya ilmu Qiro’ah atau ilmu membaca Al-Qur’an itu sangat luas dan hal tersebut jika dihubungkan dengan sanad tentu hal tersebut mutawattir, yang mana kembali pada definisi Al-Qur’an sendiri yakni sebuah kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, melalui perantara malaikat jibril dan bernilai ibadah bagi pembacanya.

Jejak Sanad dan Otoritas Sang Pemateri

Kapasitas keilmuan Prof. Dr. KH. Ahsin Sakho’, Lc. MA dalam mengurai kerumitan ilmu Qira'at tidak lepas dari riwayat perjalanan intelektualnya yang panjang. Beliau bukan sekadar akademisi pengkaji teks, melainkan hamilul qur'an (pembawa Al-Qur'an) yang sanad keilmuannya terhubung erat dengan para qurra' terkemuka.

Lahir di Cirebon pada 1956, sejak kecil beliau sudah menunjukkan bakatnya dalam ilmu-ilmu Al-Qur’an, yang mana beliau sudah mampu menghafal 3 juz Al-Qur’an diusianya yang masih kelas IV SD. Setelah beranjak remaja, beliau kemudian melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Beliau juga sempat mendalami Al-Qur’an di Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta dan kepada KH. Arwani, Kudus. Selama 12 tahun beliau menghabiskan masa mudanya di Jam’iyyah Al-Islamiyyah atau Universitas Islam Madinah sejak 1977. Akhirnya pada 1989, beliau dapat menyelesaikan S3 nya dan meraih gelar doktor dengan gelar Cumlaude. Sekembalinya beliau dari Madinah, beliau kembali mengajar di Pondok Pesantren Darut Tauhid, Cirebon. Dan sampai saat ini, beliau menjadi pengasuh Pondok Pesantren Dar Al Qur’an dan sebagai Dewan Penasehat Pondok Pesantren Dar Al Tauhid di Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon.

Melihat latar belakang seperti itu, Tentu kehadiran sosok sekaliber beliau dalam forum JQHNU Komisariat Yudharta-Ngalah ini sudah tidak perlu diragukan lagi, karena beliau dapat menjadi  motivasi bagi para santri dan pengurus baru yang baru saja dilantik pada siang hari ini.

Menutup Hari dengan Pijar Sholawat

Rangkaian panjang yang dimulai sejak fajar dengan Semaan Al-Qur'an Halaqoh Putra dan Putri ini pada akhirnya bermuara pada pelembutan jiwa. Setelah akal dan pemahaman diisi oleh Kajian Qiro’ah ‘Asyroh, hati para jamaah dan santri akan dibasuh melalui untaian Sholawat dan Mau’idhoh Hasanah.

Sebagai penutup rangkaian kegiatan, pada malam hari diselenggarakan pengajian dan sholawat bersama KH. Zamzami Mahrus dan Ibu Nyai Hj. Noer Channah Zamzami. Kolaborasi kajian akademis tingkat tinggi di siang hari dan sentuhan tasawuf amali di malam hari ini, dapat mengukuhkan komitmen Universitas Yudharta dan Pondok Pesantren Ngalah dalam mencetak generasi pewaris Al-Qur'an yang tajam akalnya, luhur sanadnya, dan lembut hatinya.

(Pewarta : AN)

 

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 2
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0